»

#10 of 33 | prev product Prev - Next next product
printer email

product arrow Al Majmu' Syarah Al Muhadzdzab jilid 9

Price Rp 211.000 Beli
  • Beberapa Masalah Seputar Thawaf 1
  • Madzhab Ulama tentang Masalah-Masalah Seputar Thawaf 4
  • Cabang: Kaum muslimin sepakat bahwa menyentuh Hajar Aswad dengan tangan hukumnya sunah. 5
  • Cabang: Tentang Rukun Yamani, menurut madzhab kami disunahkan menyentuhnya dengan tangan dan tidak perlu menciumnya, 6
  • Cabang: Dua Rukun Syam yaitu yang berdekatan dengan Hijir Ismail, 6
  • Cabang: Idhthiba’ hukumnya sunah menurut kami tapi diingkari oleh Malik. Dalil yang kami pakai telah disebutkan sebelumnya.  7
  • Cabang: Telah kami jelaskan bahwa madzhab kami mensyaratkan suci dari hadats dan najis serta menutup aurat untuk sahnya thawaf. 7
  • Cabang: Telah kami jelaskan bahwa yang benar menurut kami adalah bahwa lari-lari kecil dalam tiga putaran thawaf disunahkan di semua tempat thawaf dimulai dari Hajar Aswad hingga berakhir padanya. 7
  • Cabang: Madzhab kami mengatakan bahwa lari-lari kecil disunahkan pada tiga putaran pertama dari tujuh putaran thawaf. 8
  • Cabang: Madzhab kami mengatakan bahwa seandainya lari-lari kecil tidak dilakukan maka pelakunya kehilangan keutamaan tapi dia tidak berdosa. 8
  • Cabang: Ibnu Al Mundzir berkata, “Para ulama sepakat bahwa perempuan tidak perlu berlari-lari kecil dan tidak perlu sa’i, akan tetapi cukup berjalan.” 9
  • Cabang: Telah kami jelaskan bahwa madzhab menilai sunnah membaca Al Qur`an saat thawaf. 9
  • Cabang: Telah kami jelaskan bahwa Madzhab kami mengatakan bahwa thawaf dengan jalan kaki lebih utama. 10
  • Cabang: Menurut kami tertib (berurutan) merupakan syarat sahnya thawaf yaitu dengan menjadikan Ka’bah di sebelah kirinya lalu dia thawaf dengan berjalan ke arah kanan. 10
  • Cabang: Apabila orang yang thawaf melakukan thawaf di dalam Hijir Ismail maka menurut kami tidak sah. 10
  • Cabang: Apabila shalat fardhu hendak dilaksanakan ketika dia sedang thawaf lalu dia menghentikan thawafnya untuk shalat jamaah, 11
  • Cabang: Apabila ada jenazah saat dia sedang thawaf, menurut madzhab kami lebih baik menyempurnakan thawaf. 11
  • Cabang: Ibnu Al Mundzir berkata, “Para ulama sepakat bahwa boleh menthawafkan (menuntunnya thawaf) dan hukumnya sah. 11
  • Cabang: Telah kami jelaskan bahwa Madzhab kami mengatakan minum saat thawaf hukumnya makruh atau menyelisihi yang lebih utama. 11
  • Cabang: Seandainya seorang perempuan thawaf dengan memakai cadar tanpa berihram maka menurut madzhab kami hukumnya makruh 12
  • Cabang: Apabila laki-laki yang Ihram menggendong laki-laki lain yang Ihram lalu thawaf dengannya dimana masing-masing meniatkan thawaf untuk dirinya sendiri, 12
  • Cabang: Seandainya masih tersisa sedikit bagian thawaf fardhu meskipun hanya satu thawaf atau sebagiannya, 13
  • Cabang: Madzhab kami mengatakan bahwa orang yang menunaikan haji dan umrah secara Qiran cukup melakukan satu thawaf yaitu thawaf Ifadhah dan satu Sa’i. 13
  • Cabang: Telah kami jelaskan bahwa apabila orang yang Ihram memiliki kewajiban thawaf fardhu lalu dia berniat melakukan thawaf lain maka hukum yang berlaku adalah thawaf fardhu. 16
  • Cabang: Shalat sunah thawaf dua rakaat hukumnya sunah menurut kami. Pendapat ini dinyatakan oleh Malik, Ahmad dan Daud. Sementara menurut Abu Hanifah hukumnya wajib. 17
  • Cabang: Ibnu Al Mundzir berkata, “Para ulama sepakat bahwa shalat sunah Thawaf dua rakaat hukumnya sah dilakukan dimana saja. 17
  • Cabang: Telah kami jelaskan bahwa yang paling shahih menurut kami adalah bahwa shalat thawaf dua rakaat hukumnya sunah, 18
  • Cabang: Telah kami jelaskan bahwa wali bisa menunaikan shalat Thawaf untuk anak kecil yang belum baligh. 18
  • Cabang: Orang yang melakukan beberapa thawaf tapi tidak shalat, kemudian dia menunaikan shalat dua rakaat untuk setiap thawaf. 18
  • Hukum: Berkenaan dengan hukum, Imam Syafi’i dan para pengikutnya berkata, “Apabila seseorang telah selesai menunaikan shalat thawaf dua rakaat, 30
  • Cabang: Wajib, syarat, sunah  dan etika sa’i. 35
  • Cabang: Penulis Al Bayan berkata: Syeikh Abu Nashr berkata, “Orang yang berihram untuk haji dari Makkah, apabila dia telah melakukan thawaf Wada’ untuk keluar menuju Mina, 42
  • Cabang: Ulama madzhab kami berpendapat, “Seandainya seseorang melakukan thawaf lalu dia yakin bahwa dia meninggalkan bagian dari thawaf maka Sa’inya tidak sah.”  42
  • Cabang: Berturut-turut antara urutan-urutan Sa’i hukumnya sunah menurut madzhab kami. 43
  • Cabang: Sunah-sunah Sa’i. 45
  • Cabang: Kaum wanita dalam hal ini ada dua pendapat fuqaha Syafi’iyyah, 48
  • Cabang: Syeikh Abu Muhammad Al Juwaini berkata, “Aku melihat orang-orang menunaikan shalat dua rakaat di atas bukit Marwah setelah mereka selesai Sa’i. 49
  • Cabang: Imam Syafi’i dan para pengikutnya berkata, “Tidak boleh melakukan Sa’i di selain tempat Sa’i. 49
  • Cabang: Ad-Darimi berkata, “Dimakruhkan berdiri saat sedang Sa’i berdasarkan sebuah hadits dan sejenisnya. Tapi bila dia melakukannya maka hukumnya sah.” 50  
  • Cabang: Telah dijelaskan sebelumnya dalam sub bahasan Thawaf bahwa disunahkan melakukan Idhthiba’ di seluruh tempat lari-lari kecil. 50
  • Cabang: Sa’i adalah salah satu rukun Haji dimana Haji tidak sempurna kecuali dengan melakukan Sa’i. 50
  • Cabang: Imam Syafi’i dan para pengikutnya berkata, “Apabila seseorang melakukan Sa’i setelah thawaf Qudum maka hukumnya menjadi rukun 51
  • Cabang: Madzhab kami menyatakan bahwa apabila seseorang melakukan Sa’i dengan naik kendaraan maka hukumnya dibolehkan dan tidak dikatakan makruh.52
  • Madzhab Para Ulama Berkenaan dengan Hukum Sa’i. 52
  • Cabang: Seandainya seseorang melakukan Sa’i sebelum thawaf maka Sa’inya tidak sah menurut madzhab kami. 55
  • Cabang: Madzhab kami berpendapat bahwa berurutan dalam Sa’i merupakan syarat. Sa’i harus dimulai dari Shafa. 56
  • Cabang: Apabila shalat fardhu hendak dilaksanakan ketika dia sedang melakukan Sa’i, 57
  • Cabang: Madzhab kami dan madzhab Jumhur berpendapat bahwa Sa’i dilakukan oleh orang yang terkena hadats, 57
  • Hukum: Berkenaan dengan ketetapan hukumnya, dalam hal ini ada beberapa masalah: 60
  • Cabang: Khutbah yang disyariatkan dalam haji ada empat. 63
  • Cabang: Hari-hari manasik haji ada tujuh. 64
  • Cabang: Bagi khalifah (raja/presiden) yang tidak bisa mengikuti manasik haji disunahkan agar menunjuk wakilnya untuk membimbing jamaah haji 64
  • Cabang: Imam Syafi’i dan para pengikutnya berkata, “Disunahkan bagi orang yang Ihram dari Makkah dan hendak keluar menuju Arafah melakukan thawaf di Ka’bah dan shalat dua rakaat lalu keluar.” 67
  • Cabang: Imam Syafi’i dan para pengikutnya berkata, “Apabila jamaah haji masuk Makkah dan berniat tinggal selama 4 hari di sana, 77
  • Cabang: Imam disunahkan melakukan sunah-sunah Rawatib untuk shalat Zhuhur dan Ashar sebagaimana selain dia yang menjamak dan mengqashar juga disunahkan demikian. 77
  • Cabang: Imam Syafi’i dan para pengikutnya berkata, “Apabila hari Arafah bertepatan dengan hari Jum’at maka mereka tidak perlu shalat Jum’at di sana, 78
  • Pendapat Para Ulama Berkenaan Masalah-Masalah yang Berhubungan Dengan Bahasan Ini. 78
  • Cabang: Madzhab kami dan madzhab jumhur adalah bahwa apabila imam berstatus musafir lalu dia shalat Zhuhur dan Ashar pada hari Arafah secara qashar dengan bertindak sebagai imam, 86
  • Cabang: Madzhab kami mengatakan bahwa muadzin mengumandangkan adzan Zhuhur dan tidak mengumandangkan adzan Ashar apabila imam menjamak keduanya pada waktu Zhuhur di Arafah. 87
  • Cabang: Kaum muslimin sepakat bahwa orang yang menunaikan haji menjamak shalat Zhuhur dan Ashar bila dia shalat bersama imam. 88
  • Cabang: Madzhab kami berpendapat bahwa imam disunahkan membaca lirih dalam shalat Zhuhur dan Ashar di Arafah. 88
  • Cabang: Madzhab kami berpendapat bahwa imam disunahkan menunaikan shalat Zhuhur pada hari Tarwiyah di Mina. 89
  • Hukum: Berkenaan dengan ketetapan hukumnya, dalam hal ini adalah beberapa masalah: 101
  • Cabang: Hal-hal yang wajib dalam wukuf dan syaratnya ada dua, 110
  • Cabang: Doa-doa pilihan yang dibaca saat wuquf adalah, 119
  • Cabang: Orang menunaikan haji hendaknya menjauhi permusuhan, caci maki, cercaan dan kata-kata kotor. 121
  • Cabang: Perbanyaklah perbuatan baik pada hari Arafah dan seluruh hari 10 Dzulhijjah. 122
  • Cabang: Yang lebih utama bagi orang yang melakukan wukuf adalah tidak bernaung, 122
  • Cabang: Melakukan wukuf di selain Arafah. Yaitu berkumpul di negeri-negeri setelah Ashar pada hari Arafah. 123
  • Cabang: Di antara bid’ah-bid’ah tercela adalah tradisi yang biasa dilakukan sebagian orang awam pada masa sekarang 124
  • Cabang: Madzhab para ulama berkenaan dengan masalah-masalah seputar wukuf. 124
  • Hukum: Berkenaan dengan ketetapan hukumnya, dalam hal ini ada beberapa masalah: 140
  • Cabang: Bermalam bisa dilakukan di tempat mana saja di Muzdalifah. 149
  • Cabang: Imam Syafi’i dan para pengikutnya berkata, “Disunahkan agar tetap berada di Muzdalifah sampai terbit fajar berdasarkan hadits-hadits shahih yang terkenal dalam Ash-Shahih, 149
  • Cabang: Jumhur fuqaha Syafi’iyyah berkata, “Mereka boleh mengambil kerikil di Muzdalifah pada malam hari agar pada siang harinya mereka tidak sibuk mencarinya.” 151
  • Cabang: Imam Syafi’i dan fuqaha Syafi’iyyah berkata, “Disunahkan mengambil kerikil di Muzdalifah.” 151
  • Cabang: Ulama madzhab kami sepakat bahwa disunahkan agar tidak memecah kerikil, tapi harus mencarinya. 152
  • Cabang: Imam Syafi’i berkata, “Menurutku, mencuci kerikil Jamrah tidak makruh. Aku sendiri suka melakukannya.” 153
  • Cabang: Imam Syafi’i dan para pengikutnya berkata, “Disunahkan agar mencari kerikil kecil seperti kerikil yang biasa digunakan untuk melempar, 153
  • Cabang: Imam Syafi’i dan para pengikutnya berkata, “Disunahkan agar mendahulukan orang-orang yang lemah seperti perempuan dan lainnya 153
  • Cabang: Setelah itu orang yang wukuf keluar dari lembah Muhassir dengan berjalan menuju Mina. 164
  • Cabang: Berjalan cepat di lembah Muhassir hukumnya sunah. Ada banyak hadits yang menjelaskannya tapi ada juga sebagian hadits yang bertentangan dengannya. 164
  • Cabang: Madzhab para ulama berkenaan dengan menjamak shalat Maghrib dan shalat Isya di Muzdalifah. 166
  • Cabang: Madzhab mereka berkenaan dengan adzan saat menjamak shalat Maghrib dan shalat Isya di Muzdalifah. 167
  • Cabang: Madzhab para ulama berkenaan dengan bermalam di Muzdalifah pada malam Hari Raya Kurban. 168
  • Cabang: Telah kami jelaskan sebelumnya bahwa menurut kami yang sunah adalah tetap berada di Muzdalifah sampai fajar terbit. 169
  • Cabang: Telah kami jelaskan sebelumnya bahwa madzhab kami menyatakan adalah bahwa disunahkan melakukan wukuf di Quzah setelah shalat Shubuh 170
  • Cabang: Telah kami jelaskan sebelumnya bahwa madzhab kami menyatakan adalah disunahkan mempercepat langkah di lembah Muhassir 170
  • Cabang: Al Masy’ar Al Haram yang disebutkan dalam Al Qur`an yang disuruh agar melakukan wukuf di sana adalah Quzah, 170
  • Cabang: Menurut madzhab kami, disunahkan mencuci kerikil-kerikil Jamrah dan disunahkan mencarinya serta disunahkan tidak memecahnya. 171
  • Hukum: Berkenaan dengan ketetapan hukumnya, dalam bahasan ini ada beberapa masalah, 178
  • Cabang: Tata cara melempar Jamrah. 185
  • Cabang: Apabila seseorang melempar kerikil ke sasaran lempar dan dia ragu-ragu apakah kerikil tersebut jatuh atau tidak, 190
  • Cabang: Ulama madzhab kami berpendapat, “Tidak sah melempar dengan panah atau mendorong dengan kaki karena tidak termasuk melempar.” 191
  • Cabang: Imam Syafi’i berkata, “Jamrah adalah tempat berkumpulnya kerikil, 191
  • Cabang: Apakah disyaratkan berturut-turut dalam melempar kerikil-kerikil dan di antara Jamrah-Jamrah pada hari Tasyriq, sebagaimana yang berlaku dalam hal perbedaan dalam thawaf? 194
  • Cabang: Telah kami jelaskan bahwa apabila seseorang telah melempar tujuh kerikil secara sekaligus maka yang dihitung cuma satu kerikil. 194
  • Cabang: Pendapat para ulama berkenaan dengan melempar Jamrah. 194
  • Cabang: Madzhab kami menyatakan bahwa melempar Jamrah Aqabah setelah tengah malam Hari Raya Kurban dibolehkan. 195
  • Cabang: Madzhab para ulama berkenaan dengan waktu menghentikan bacaan Talbiyah pada Hari Raya Kurban. 195
  • Cabang: Telah kami jelaskan bahwa madzhab kami adalah menganggap sunah mengambil kerikil-kerikil Jamrah dari Muzdalifah. 196
  • Cabang: Telah kami jelaskan bahwa Madzhab kami mengatakan bahwa disunahkan agar kerikil yang dipakai seperti kerikil kecil yang biasa digunakan untuk melempar. 196
  • Cabang: Ibnu Al Mundzir berkata, “Para ulama sepakat bahwa tidak boleh melempar pada Hari Raya Kurban kecuali Jamrah Aqabah.” 197
  • Cabang: Madzhab kami menyatakan bahwa disunahkan melempar Jamrah Aqabah pada Hari Raya Kurban dengan naik kendaraan bila naik masuk ke Mina dengan naik kendaraan, 197
  • Cabang: Telah kami jelaskan bahwa madzhab kami yang benar adalah bahwa tempat berdiri saat melempar Jamrah Aqabah 197
  • Cabang: Madzhab kami menyatakan bahwa seandainya seseorang melempar dengan kerikil yang telah digunakannya untuk melempar atau digunakan orang lain hukumnya boleh tapi makruh. 198
  • Cabang: Telah kami jelaskan bahwa madzhab kami menyatakan bahwa seandainya seseorang melempar tujuh kerikil secara sekaligus maka yang dihitung cuma satu kerikil. 198
  • Cabang: Telah kami jelaskan bahwa madzhab kami menyatakan bahwa boleh melempar dengan segala jenis batu dan tidak boleh melempar dengan selain batu seperti timah, 199
  • Hukum: Berkenaan dengan ketetapan hukumnya, dalam hal ini ada beberapa masalah 212
  • Cabang: Ulama madzhab kami berpendapat, “Semua yang telah kami uraikan tentang hukum mencukur rambut adalah bagi orang yang tidak wajib mencukurnya. 221
  • Cabang: Waktu mencukur rambut bagi orang yang Umrah adalah setelah selesai Sa’i. 224
  • Cabang: Pendapat para ulama berkenaan dengan mencukur rambut, apakah ia manasik? 224
  • Cabang: Para ulama sepakat bahwa memcukur rambut lebih utama daripada memangkasnya, tapi memangkas hukumnya sah. 225
  • Cabang: Apabila mencukur rambut ditunda sampai setelah hari Tasyriq, 225
  • Cabang: Ibnu Al Mundzir berkata, “Para ulama sepakat bahwa perempuan tidak wajib mencukur rambutnya tapi hanya cukup memangkasnya.” 225
  • Cabang: Bagi orang yang tidak memiliki rambut maka dia tidak perlu dicukur dan tidak perlu membayar Fidyah. 226
  • Cabang: Telah kami jelaskan bahwa menurut kami dalam mencukur rambut atau memangkasnya yang wajib adalah tiga helai rambut. 228
  • Cabang: Madzhab kami menyatakan bahwa dalam mencukur rambut disunahkan agar memulai bagian kepala sebelah kanan meskipun yang dicukur berada di sebelah kiri tukang cukur. 229
  • Cabang: Madzhab kami menyatakan bahwa seandainya mencukur rambut dilakukan lebih dulu sebelum menyembelih hewan kurban maka hukumnya dibolehkan dan tidak ada Dam atas pelakunya. 230
  • Cabang: Telah kami jelaskan bahwa madzhab kami menyatakan bahwa orang yang mengempal rambutnya dan tidak bernadzar untuk mencukurnya maka dia tidak wajib mencukurnya, 231
  • Hukum: Berkenaan dengan ketetapan hukum, bahwa apabila seseorang telah melempar Jamrah dan mencukur rambutnya 234
  • Cabang: Tidak ada akhir untuk waktu thawaf Ifadhah. 236
  • Cabang: Waktu thawaf Ifadhah itu sejak tengah malam Hari Raya Kurban.  236
  • Cabang: Imam Syafi’i, Al Mawardi dan ulama madzhab kami berpendapat, “Apabila seseorang telah selesai thawaf, disunahkan agar dia minum dari Siqayah Al Abbas,  237
  • Cabang: Yang lebih utama adalah melakukan thawaf Ifadhah sebelum matahari tergelincir lalu kembali ke Mina untuk menunaikan shalat Zhuhur di sana. 237
  • Cabang: Thawaf Ifadhah memiliki lima nama, di antaranya:  Thawaf ziyarah. 242
  • Cabang: Para ulama berbeda pendapat tentang hari haji terbesar, 242
  • Cabang: Madzhab kami mengatakan bahwa thawaf Ifadhah itu tidak ada waktu akhirnya, akan tetapi berlaku selama masih hidup, 244
  • Hukum: Berkenaan dengan ketetapan hukumnya, Imam Syafi’i dan para pengikutnya (fuqaha Syafi’iyyah) berkata, “Dalam haji ada dua Tahallul yaitu Tahallul pertama dan Tahallul kedua yang berkaitan dengan melempar Jamrah Aqabah, 248
  • Cabang: Penjelasan tentang hadits yang musykil dan bertentangan dengan apa yang telah kami jelaskan. 252
  • Cabang: Dalam Haji itu ada dua Tahallul. Demikianlah yang dinyatakan oleh fuqaha Syafi’iyyah dalam seluruh jalur riwayat mereka. 254
  • Cabang: Ulama madzhab kami berpendapat, “Apabila seseorang telah melakukan dua Tahallul maka dia boleh melakukan apa saja 254
  • Hukum: Berkenaan dengan ketetapan hukumnya, dalam hal ini ada beberapa masalah: 261
  • Cabang: Seandainya seseorang tidak melempar pada sebagian hari sedang kami mengatakan bahwa harus menyusulnya lalu dia menyusulnya, 268
  • Cabang: Ulama madzhab kami berpendapat, “Disunahkan agar melempar pada dua hari Tasyriq pertama dengan jalan kaki sementara pada hari terakhir naik kendaraan, 271
  • Cabang: Dalam melempar tidak diperlukan niat. 273
  • Cabang: Hikmah melempar Jumrah. 273
  • Cabang: Dalil yang digunakan ulama madzhab kami dalam masalah bolehnya menunjuk ganti untuk melempar adalah Qiyas 280
  • Cabang: Ulama madzhab kami berpendapat, “Dianjurkan agar orang yang tidak mampu menunjuk ganti orang yang telah halal atau orang yang telah melempar untuk dirinya sendiri. 280
  • Cabang: Apabila orang yang menggantikan telah melempar lalu halangan orang yang minta digantikan telah hilang sementara hari melempar masih ada, 282
  • Hukum: Berkenaan dengan ketetapan hukumnya, dalam hal ini ada beberapa masalah yang secara ringkas bisa disimpulkan bahwa sebaiknya bermalam di Mina pada malam-malam Tasyriq 286
  • Cabang: Apabila seseorang tidak bermalam karena lupa maka dia seperti tidak bermalam secara sengaja. 200
  • Cabang: Ar-Ruyani dan lainnya menyatakan bahwa penggembala tidak diberi dispensasi untuk meninggalkan melempar Jamrah Aqabah pada Hari Raya Kurban dan menunda thawaf Ifadhah dari Hari Raya Kurban. 290
  • Cabang: Ar-Ruyani berkata, “Bagi orang yang tidak berhalangan tapi tidak bermalam pada dua malam pertama dari hari Tasyriq lalu melempar pada hari kedua dan hendak bertolak bersama orang-orang dalam Nafar pertama, 291
  • Cabang: Apabila seseorang bertolak dari Mina dengan buru-buru pada hari kedua dan meninggalkannya sebelum matahari terbenam 295
  • Cabang: Ulama madzhab kami berpendapat, “Apabila seseorang bertolak dari Mina pada hari Nafar pertama dan kedua, 298
  • Hukum: Berkenaan dengan ketetapan hukumnya, ulama madzhab kami berpendapat, “Apabila orang yang menunaikan haji telah selesai melempar Jamrah dan bertolak dari Mina, 301
  • Hukum: Berkenaan dengan ketetapan hukumnya, dalam hal ini ada beberapa masalah 304
  • Cabang: Telah kami jelaskan dalam masalah keenam dari Al Baghawi bahwa thawaf Wada’ itu berlaku bagi setiap orang yang hendak meninggalkan Makkah menuju jarak Qashar. 309
  • Cabang: Tidak boleh bertolak dari Mina dan meninggalkan thawaf Wada’ bila kami katakan bahwa ia wajib.  309
  • Cabang: Penulis Al Bayan berkata: Syeikh Abu Nashr berkata dalam Al Mu’tamad, 310
  • Cabang: Apabila seseorang telah melakukan thawaf Wada’ dan keluar dari tanah Haram lalu hendak kembali lagi ke sana, 311
  • Cabang: Apabila kami katakan bahwa thawaf Wada’ wajib lalu dia meninggalkan satu putaran dari tujuh putaran thawaf kemudian dia kembali ke negerinya, 311
  • Cabang: Apabila seorang perempuan terkena haidh sebelum melakukan thawaf Ifadhah sementara jamaah haji hendak bertolak setelah selesai melakukan manasik,  311
  • Cabang: Ulama madzhab kami berpendapat, “Apabila perempuan yang menunaikan haji mengalami haidh sebelum melakukan thawaf Ifadhah 312
  • Cabang: Al Hasan Al Bashri menulis dalam Risalah-nya yang terkenal untuk penduduk Makkah bahwa doa akan dikabulkan di beberapa tempat 318
  • Hukum: Berkenaan dengan ketetapan hukumnya, dalam bahwa ini ada dua masalah 320
  • Hukum: Berkenaan dengan ketetapan hukumnya, rukun haji bila tidak dilakukan maka haji dinilai tidak sempurna dan tidak sah sampai dia melakukan semuanya. 325
  • Hukum: Berkenaan dengan ketetapan hukumnya, dalam hal ini ada beberapa masalah 330
  • Cabang: Dianjurkan agar seseorang masuk Ka’bah dengan tawadhu’, 334
  • Cabang: Telah dijelaskan dalam bab menghadap kiblat bahwa madzhab kami menegaskan bahwa boleh menunaikan shalat fardhu dan shalat sunah di dalam Ka’bah, 334
  • Cabang: Disunahkan sering masuk Hijir Ismail untuk shalat dan berdoa di dalamnya, karena ia atau sebagiannya merupakan bagian dari Ka’bah. 334
  • Cabang: Apabila seseorang masuk Ka’bah dia hendaknya berhati-hati jangan sampai tertipu dengan sebagian ritual yang dibuat orang-orang sesat dalam Ka’bah yang mulia. 335
  • Cabang: Sunah masuk Ka’bah adalah orang yang menunaikannya tidak menemui bahaya ketika memasukinya dan tidak membahayakan orang lain. 335
  • Cabang: Bagi majelis-majelis di Masjidil Haram hendaknya menghadap ke arah Ka’bah dan dekat dengannya serta memandang ke arahnya dengan penuh keimanan dan mengharap pahala. 336
  • Cabang: Dianjurkan bagi orang yang menunaikan Haji dan Umrah agar memanfaatkan waktu sebaik mungkin ketika berada di Makkah, 336
  • Cabang: Ulama madzhab kami berpendapat, “Disunahkan meminum air anggur dari Siqayah Al Abbas bila ada.Minuman anggur yang boleh diminum tidak boleh memabukkan.” 340
  • Cabang: Tidak boleh thawaf mengelilingi makam Nabi g. Selain itu, dimakruhkan melekatkan pungung dan perut ke dinding makam. 352
  • Cabang: Dianjurkan ketika berada di Madinah agar menunaikan seluruh shalat di masjid Rasulullah 354
  • Cabang: Disunahkan agar keluar menuju Al Baqi’ setiap hari, khususnya pada hari Jum’at.  354
  • Cabang: Disunahkan berziarah ke kuburan syuhada Uhud, dan yang paling utama adalah pada hari kamis, 355
  • Cabang: Disunahkan mendatangi masjid Quba dan lebih disunahkan lagi pada hari Sabtu dengan niat mendekatkan diri kepada Allah dengan mengunjunginya dan shalat di dalamnya. 356
  • Cabang: Disunahkan agar mengunjungi tempat-tempat yang berada di Madinah yang jumlahnya ada 30 tempat, 357
  • Cabang: Di antara kebodohan orang-orang awam dan bid’ah yang mereka buat adalah memakan kurma Ash-Shaihani di Ar-Raudhah 357
  • Cabang: Ketika tinggal di Madinah dianjurkan agar hati selalu mengingat akan keagungannya bahwa ia merupakan negeri yang dipilih Allah 357
  • Cabang: Disunahkan agar berpuasa di Madinah sebisa mungkin dan bersedekah kepada tetangga Rasulullah 358
  • Cabang: Diriwayatkan dari Kharijah bin Zaid bin Tsabit, salah seorang dari tujuh fuqaha Madinah, 359
  • Cabang: Orang yang singgah di Madinah tidak perlu membawa bejana yang dibuat dari tanah Madinah untuk dibawa ke negerinya yang berada di luar Madinah. 359
  • Cabang: Apabila seseorang hendak keluar dari Madinah dan pulang ke negerinya atau ke tempat lain, 356
  • Cabang: Di antara mitos terkenal yang beredar di kalangan orang-orang awam negeri Syam pada masa sekarang ini 360
  • Cabang: Para ulama sepakat bahwa berziarah ke Masjid Al Aqsha dan shalat di dalamnya disunahkan dan memiliki keutamaan tersendiri. 361
  • Cabang: Para ulama berbeda pendapat tentang tinggal di Makkah dan Madinah. 363
  • Pasal: Di antara yang perlu diketahui adalah sifat imam (pemimpin) yang menjadi pemandu manasik haji dan menjadi khotib. 364
  • Cabang: Al Mawardi, Al Baihaqi, Al Qadhi Abu Ath-Thayyib dan lain-lainnya dari kalangan ulama madzhab kami 370
  • Cabang: Orang yang telah menunaikan haji boleh dipanggil Haji setelah bertahallul meskipun setelah bertahun-tahun, 370
  • Cabang: Syeikh Abu Hamid mengatakan di akhir seperempat ibadah dalam Ta’liq-nya dan Al Bandaniji penulis Al Iddah, 371
  • Madzhab Para Ulama dalam Masalah-Masalah yang Telah Diuraikan 372
  • Cabang: Apabila seseorang telah melempar satu kerikil lalu jatuh di suatu tempat kemudian menggelinding dan jatuh di sasaran lempar maka hukumnya sah menurut Ijma’. 373
  • Cabang: Madzhab kami menyatakan bahwa awal waktu thawaf Ifadhah adalah sejak tengah malam Hari Raya Kurban dan waktu terakhirnya selama hayat dikandung badan, 373
  • Cabang: Tidak boleh melempar Jumrah Tasyriq kecuali setelah matahari tergelincir. 374
  • Cabang: Mengurutkan Jumrah-Jumrah pada hari-hari Tasyriq adalah syarat. 374
  • Cabang: Menurut kami, disyaratkan memisah batu kerikil-kerikil. 375
  • Cabang: Apabila seseorang meninggalkan tiga kerikil dari satu Jamrah maka dia wajib membayar Dam. 375
  • Cabang: Para ulama sepakat bahwa boleh melempar untuk anak kecil yang belum bisa melempar. 375
  • Cabang: Para ulama sepakat bahwa dianjurkan berdiri di dua Jamrah pertama untuk berdoa sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. 375
  • Cabang: Pendapat para ulama berkenaan dengan orang yang meninggalkan satu kerikil atau dua kerikil. 376
  • Cabang: Boleh menyegerakan bertolak dari Mina pada hari kedua selama matahari belum terbenam, 377
  • Cabang: Bagi warga Makkah boleh melakukan Nafar pertama sebagaimana dibolehkan bagi lainnya. Inilah madzhab yang kami anut dan inilah dinyatakan mayoritas ulama, 378
  • Cabang: Telah kami jelaskan bahwa pendapat yang paling shahih dalam Madzhab kami mengatakan bahwa thawaf Wada’ itu wajib hukumnya dan bila ditinggalkan diharuskan membayar Dam. 379
  • Cabang: Madzhab kami menyatakan bahwa wanita haidh tidak wajib melakukan thawaf Wada’. 379
  • Cabang: Madzhab kami menyatakan bahwa apabila seseorang meninggalkan thawaf Wada’ sementara kami katakan bahwa ia wajib, 379
  • Cabang: Apabila seseorang telah melakukan thawaf Wada’ maka disyaratkan agar dia tidak tinggal setelahnya. 380
  • Cabang: Apabila perempuan mengalami haidh sementara dia belum melakukan thawaf Ifadhah, 380
  • Bab: Luput (Terlambat) dan menemukan halangan dalam Ibadah Haji 381
  • Hukum: Berkenaan dengan ketetapan hukumnya, apabila seseorang berihram untuk haji tapi tidak melakukan wukuf di Arafah sampai terbit fajar Hari Raya Kurban, 382
  • Cabang: Ulama madzhab kami berpendapat, “Berkenaan dengan ketinggalan dalam Haji, 386
  • Cabang: Ulama madzhab kami berpendapat, “Berkenaan dengan ketinggalan dalam Haji, 387
  • Cabang: Apabila seseorang berihram untuk Umrah pada bulan-bulan Haji lalu selesai menunaikan Umrah, 387
  • Cabang: Semua yang telah diuraikan di atas adalah berkenaan dengan orang yang berihram untuk Haji saja lalu dia ketinggalan. 387
  • Cabang: Al Qaffal, Ar-Ruyani dan lainnya berkata, "Sebagaimana Umrah itu mengikuti Haji apabila ketinggalan bagi orang yang menunaikan Haji Qiran, 390
  • Cabang: Telah kami uraikan bahwa orang yang ketinggalan haji bisa bertahallul dengan Thawaf, Sa'i dan mencukur.  391
  • Cabang: Syeikh Abu Hamid, Ad-Darimi, Al Mawardi dan lainnya berkata, “Seandainya orang yang ketinggalan ingin tetap dalam Ihram sampai tahun depan maka hukumnya tidak boleh, 391
  • Cabang: Al Qadhi Abu Ath-Thayyib berkata dalam kitabnya Al Mujarrad dan juga Ar-Ruyani: Ibnu Al Marzuban berkata, "Orang yang ketinggalan hukumnya seperti orang yang melakukan Tahallul pertama, 391
  • Cabang: Seandainya hajinya batal karena bersetubuh lalu dia ketinggalan, menurut fuqaha Syafi'iyyah, 392
  • Madzhab-Madzhab Ulama dalam Masalah Ini 392
  • Cabang: Ar-Ruyani berkata, "Ayahku berkata, ‘Apabila orang-orang berihram untuk Haji pada bulan-bulan Haji dengan Ijtihad mereka lalu terjadi Ijtihad mereka salah secara umum, 398
  • Cabang: Madzhab para ulama berkenaan dengan kesalahan dalam wukuf. 398
  • Cabang: Apa yang telah kami uraikan di atas adalah apabila musuh menghalangi mereka sementara mereka tidak menemukan jalan lain. 406
  • Cabang: Ulama madzhab kami berpendapat, “Apabila orang yang menunaikan Haji tidak bertahallul ketika terkepung hingga Hajinya ketinggalan, 408
  • Cabang: Ulama madzhab kami berpendapat, “Apabila orang yang menunaikan Haji bertahallul, 408
  • Cabang: Ulama madzhab kami berpendapat, “Apabila musuh yang menghalang-halangi jalan mengatakan kami memberi jaminan 409
  • Cabang: Abu Sa'id bin Abu Ashrun membantah perkataan penulis "Karena memerangi orang-orang kafir itu tidak wajib kecuali apabila mereka memulai perang (menantang perang)” 409
  • Hukum: Berkenaan dengan ketetapan hukum, Imam Asy-Syafi'i dan fuqaha Syafi'iyyah berkata, "Tidak ada bedanya tentang bolehnya bertahallul karena terkepung antara sebelum wukuf dengan sesudah wukuf. 417
  • Cabang: Orang yang bertahallul karena terkepung wajib membayar Dam yaitu seekor kambing. 419
  • Cabang: Penulis dan fuqaha Syafi'iyyah berpendapat, “Pengepungan itu ada dua macam: Umum dan Khusus. 424
  • Cabang: Apabila orang yang terkepung bertahallul, menurut Imam Asy-Syafi’i, penulis dan fuqaha Syafi'iyyah, apabila manasiknya sunah maka tidak perlu mengqadha. 425
  • Cabang: Orang yang bertahallul karena dikepung wajib membayar Dam. 426
  • Cabang: Penulis dan fuqaha Syafi'iyyah berkata, "Boleh bertahallul dari Ihram yang batal sebagaimana boleh bertahallul dari Ihram yang benar. 426
  • Cabang: Ar-Ruyani dan lainnya berkata, "Apabila orang yang menunaikan Haji dikepung setelah wukuf di Arafah dan dilarang melakukan segala sesuatu selain Thawaf 427
  • Cabang: Apabila orang yang menunaikan Haji batal Hajinya karena bersetubuh lalu dia dikepung 427
  • Cabang: Apabila orang yang menunaikan Haji atau Umrah terkepung dan dia tidak bertahallul lalu dia bersetubuh, 427
  • Cabang: Apabila kami membenarkan pensyaratan Tahallul karena sakit dan sebagainya, 438
  • Cabang: Apabila seseorang mewajibkan Tahallul karena sakit dan sebagainya, telah kami uraikan perbedaan pendapat tentang sahnya syarat tersebut. 438
  • Cabang: Di antara argumentasi yang digunakan ulama madzhab kami untuk membolehkan pensyaratan Tahallul karena sakit 438
  • Cabang: Telah kami uraikan sebelumnya bahwa Imam Al Haramain menafsirkan hadits Dhuba’ah 439
  • Cabang: Ulama madzhab kami berpendapat, “Melakukan Tahallul karena penyakit dan sebagainya, 439
  • Cabang: Imam Al Haramain dan Al Ghazali berkata dalam Al Wasith, “Nabi g bersabda kepada Dhuba’ah Al Aslamiyyah, 439
  • Hukum: Berkenaan dengan ketetapan hukumnya, semua penjelasan penulis telah diuraikan sebelumnya 441
  • Hukum: Berkenaan dengan ketetapan hukumnya, ulama madzhab kami berkata, “Sebaiknya perempuan tidak berihram tanpa seizin suaminya, 442
  • Cabang: Ulama madzhab kami berpendapat, “Apabila kami membolehkan suami menyuruh istrinya bertahallul, 447
  • Cabang: Budak perempuan yang bersuami tidak boleh melakukan Ihram kecuali atas seizin majikan dan suaminya. 448
  • Cabang: Ad-Darimi berkata, “Apabila istri berihram pada masa iddah, 49
  • Cabang: Apabila suami memberi izin kepada istrinya untuk berihram lalu dia menarik izinnya atau keduanya 450
  • Cabang: Apabila istri hendak menunaikan Haji, menurut Al Mawardi, 451
  • Cabang: Telah kami uraikan sebelumnya tentang madzhab kami berkenaan dengan Haji perempuan. 452
  • Hukum: Ketetapan hukum yang berkaitan dengan masalah ini 458
  • Cabang: Ulama madzhab kami berpendapat, “Ketika kami membolehkan kedua orang tua menyuruh anaknya bertahallul, 460
  • Cabang: Menyuruh anak untuk bertahallul dari Umrah dan melarangnya darinya adalah seperti Haji 460
  • Cabang: Apabila seorang anak hendak bepergian untuk mencari ilmu, 460
  • Cabang: Ulama madzhab kami berpendapat, “Barangsiapa memiliki utang yang belum dibayar sementara dia dalam keadaan mampu, 461
  • Cabang: Ketika kami membolehkan istri dan anak bertahallul lalu keduanya bertahallul, 462
  • Cabang: Imam Al Haramain dan lainnya berkata, “Perkataan ulama madzhab kami bahwa majikan boleh menjadikan budaknya bertahallul, 462
  • Pendapat Ulama tentang Terkepung 465
  • Cabang: Apabila seseorang berihram untuk Umrah lalu dia terkepung, 466
  • Cabang: Menurut kami boleh bertahallul apabila terkepung baik sebelum wukuf atau sesudahnya, baik dilarang masuk Ka'bah 466
  • Cabang: Menyembelih hewan kurban ketika terkepung adalah di tempat dia terkepung, 466
  • Cabang: Apabila seseorang bertahallul karena terkepung, apabila Hajinya wajib maka ia tetap seperti biasanya 467
  • Cabang: Telah kami uraikan sebelumnya bahwa madzhab kami menyatakan bahwa tidak boleh bertahallul karena sakit dan lainnya 467
  • Cabang: Orang Makkah boleh bertahallul apabila dia dilarang masuk Arafah. 467
  • Cabang: Telah kami uraikan sebelumnya bahwa pendapat yang paling shahih menurut kami adalah bahwa suami boleh melarang istrinya menunaikan Haji Islam. 468
  • Bab Hewan Kurban 469
  • Hukum: Berkenaan dengan ketetapan hukum, 470
  • Hukum: Berkenaan dengan ketetapan hukum, 472
  • Cabang: Telah kami uraikan pada pembahasan sebelumnya bahwa disunahkan agar melukai sisi punuk sebelah kanan. 474
  • Cabang: Al Mawardi berkata: Imam Asy-Syafi'i berkata, "Apabila sapi dan ontanya tidak memiliki punuk, 474
  • Cabang: Telah kami uraikan sebelumnya bahwa madzhab kami menyatakan bahwa disunahkan melukai dan mengalungi unta dan sapi. 474
  • Cabang: Telah kami uraikan sebelumnya bahwa madzhab kami menyatakan bahwa disunahkan melukai punuk kanan hewan kurban. 478
  • Cabang: Telah kami uraikan sebelumnya bahwa madzhab kami menyatakan bahwa sapi boleh dilukai punuknya. 479
  • Cabang: Madzhab kami menyatakan bahwa kambing boleh dikalungi berdasarkan hadits-hadits yang telah diuraikan sebelumnya. 479
  • Cabang: Disunahkan menganyam kalung-kalung hewan kurban, berdasarkan hadits Aisyah, 479
  • Cabang: Apabila hewan kurban telah dikalungi dan dilukai punuknya ia tidak menjadi hewan kurban wajib menurut pendapat yang benar sesuai pendapat baru Imam Asy-Syafi’i. 480
  • Cabang: Apabila seseorang mengalungi hewan kurbannya dan melukai punuknya dia tidak dianggap berihram karenanya, tapi dia dianggap berihram apabila berniat Ihram. 480
  • Cabang: Yang sunah adalah mengalungi hewan kurban dan melukai punuknya saat Ihram, 482
  • Cabang: Disunahkan bagi orang yang tidak hendak pergi Haji agar mengirim hewan kurban, 482
  • Cabang: Imam Asy-Syafi'i berkata, "Sah hukumnya hewan kurban jantan maupun betina, 482
  • Cabang: Diriwayatkan secara shahih dari Ali 483
  • Hukum: Berkenaan dengan ketetapan hukum, ada beberapa masalah 489
  • Cabang: Tidak boleh menyewakan Hadyu (hewan kurban yang dipersembahkan ke tanah Haram) 491
  • Cabang: Telah kami uraikan sebelumnya bahwa bahwa madzhab kami menyatakan bahwa apabila seseorang menadzarkan hewan Hadyu tertentu
  • Cabang: Pendapat para ulama berkenaan dengan hukum menunggangi hewan Hadyu yang dinadzarkan 498
  • Cabang: Telah kami uraikan pada pembahasan sebelumnya bahwa apabila seseorang menadzarkan hewan Hadyu tertentu 498
  • Cabang: Telah kami uraikan pada pembahasan sebelumnya bahwa madzhab kami yang masyhur adalah bahwa boleh meminum sisa air susu anak hewan Hadyu 499
  • Hukum: Berkenaan dengan ketetapan hukumnya, dalam hal ini ada beberapa masalah 503
  • Cabang: Telah kami uraikan dalam pembahasan sebelumnya apabila hewan Hadyu nadzar rusak 505
  • Cabang: Apabila seseorang berkata, “Aku menjadikan kambing ini atau unta ini sebagai Udh-hiyah 511
  • Cabang: Apabila seseorang menjadikan kambingnya sebagai Udh-hiyah atau bernadzar akan menyembelih Udh-hiyah 516
  • Cabang: Hewan Hadyu dan Udh-hiyah yang hilang 523
  • Cabang: Apabila seseorang menentukan kambing untuk hewan Hadyu atau Udh-hiyah yang menjadi tanggungannya 525
  • Cabang: Apabila orang yang wajib membayar kafarat menentukan seorang budak laki-laki, 525
  • Cabang: Berkenaan dengan waktu menyembelih, dalam hal ini ada dua jalur riwayat 525
  • Cabang: Ulama madzhab kami berpendapat, “Apabila orang melakukan Umrah membawa hewan Hadyu 526
  • Cabang: Al Bandaniji dan lainnya berkata, "Disunahkan bagi orang yang memiliki dua hewan Hadyu 527
  • Cabang: Apabila hewan Hadyu dan Udh-hiyah telah disembelih tapi dagingnya tidak dibagi-bagikan hingga berubah dan bau, 527
  • Cabang: Hari-hari yang diketahui dan ditentukan. 527
  • Bab Udh-hiyah (Hewan Kurban) 531
  • Hukum: Berkenaan dengan ketetapan hukumnya, Imam Asy-Syafi’i dan fuqaha Syafi'iyyah 532
  • Cabang: Imam Asy-Syafi'i berkata dalam pembahasan Hewan Kurban yang dikutip oleh Al Buwaithi 533
  • Cabang: Ulama madzhab kami berpendapat, “Berkurban hukumnya sunah secara Kifayah untuk satu keluarga. 534
  • Cabang: Pendapat para ulama berkenaan dengan Udh-hiyah (hewan kurban). 536
  • Cabang: Ad-Darimi berkata, "Apabila orang-orang melakukan wukuf di Arafah pada tanggal 10 Dzulhijjah karena kesalahan mereka, 546
  • Cabang: Pendapat para ulama berkenaan dengan waktu menyembelih hewan kurban. 546
  • Cabang: Hari-hari penyembelihan hewan kurban adalah hari raya Idul Adha dan hari-hari Tasyriq 549
  • Cabang: Madzhab kami menyatakan bahwa boleh menyembelih hewan kurban baik siang maupun malam hari pada hari-hari tersebut, 551
  • Cabang: Apabila hari-hari penyembelihan telah berlalu sementara seseorang belum menyembelih hewan kurban nadzar, 551
  • Hukum: Berkenaan dengan ketetapan hukumnya, ulama madzhab kami 552
  • Cabang: Madzhab kami menyatakan bahwa menghilangkan rambut dan kuku pada tanggal 10 Dzulhijjah bagi orang yang hendak berkurban hukumnya makruh Tanzih 554
  • Hukum: Berkenaan dengan ketetapan hukumnya, syarat hewan kurban Udh-hiyah 557
  • Cabang: Tidak sah hewan indo yang merupakan keturunan campuran dari kijang dan kambing, 559
  • Cabang: Pendapat para ulama tentang usia hewan kurban Udh-hiyah. 559
  • Cabang: Zahir hadits Jabir yang disebutkan dalam kitab ini adalah bahwa domba berusia 1 tahun penuh tidak sah untuk dijadikan hewan kurban 562
  • Hukum: Berkenaan dengan ketetapan hukumnya, dalam hal ini ada beberapa masalah 564
  • Cabang: Sah hukumnya berkurban dengan hewan jantan dan betina menurut Ijma' ulama 565
  • Cabang: Seekor kambing sah untuk satu orang dan tidak sah untuk lebih dari satu orang. 566
  • Pendapat Ulama dalam Masalah Ini 568
  • Cabang: Boleh tujuh orang bersekutu dalam menyembelih seekor unta atau sapi, 569
  • Hukum: Berkenaan dengan ketetapan hukumnya, dalam hal ini ada beberapa permasalahan 572
  • Cabang: Cacat itu ada enam macam, 582
  • Pendapat Para Ulama Berkenaan dengan Cacat pada Udh-hiyah (Hewan Kurban) 583
  • Hukum: Berkenaan dengan ketetapan hukumnya, Imam Asy-Syafi’i dan fuqaha Syafi'iyyah 585
  • Cabang: Ulama madzhab kami berpendapat, “Niat merupakan syarat sahnya kurban. 586
  • Cabang: Tidak sah penyembelihan yang dilakukan budak laki-laki, budak perempuan yang disetubuhi majikannya hingga melahirkan anak dan budak Mudabbar 587
  • Cabang: Apabila seseorang berkurban untuk orang lain tanpa seizin orang lain tersebut maka tidak berlaku. 588
  • Cabang: Para ulama sepakat bahwa boleh mewakilkan peyembelihan hewan kurban kepada orang lain yang beragama Islam. 589
  • Hukum: Berkenaan dengan ketetapan hukumnya, maksud bahasan ini adalah menjelaskan adab-adab menyembelih dan sunah-sunahnya, 591
  • Cabang: Ibnu Kajj berkata, "Orang yang menyembelih kambing seraya mengucapkan ‘Aku menyembelih untuk keridhaan si fulan’ 596
  • Cabang: Disamping membaca Basmalah saat menyembelih, disunahkan pula membaca shalawat atas Rasulullah 596
  • Cabang: Selain membaca Basmalah saat menyembelih, disunahkan membaca doa, 597
  • Cabang: Pendapat para ulama tentang membaca Basmalah saat menyembelih hewan kurban dan sembelihan-sembelihan lainnya, 598
  • Cabang: Pendapat para ulama berkenaan dengan masalah-masalah yang telah diuraikan sebelumnya 603
  • Hukum: Berkenaan dengan ketetapan hukumnya, berkenaan dengan Udh-hiyah dan Hadyu ada dua kondisi. 608
  • Cabang: Boleh menyimpan daging hewan kurban. 614
  • Cabang: Pendapat para ulama berkenaan dengan makan daging kurban Udhhiyah dan Hadyu yang wajib. 616
  • Cabang: Memakan daging hewan kurban (Udh-hiyah) sunah dan hewan Hadyu sunah adalah sunah dan tidak wajib. 616
  • Cabang: Ibnu Al Marzuban berkata, "Barangsiapa memakan sebagian hewan kurban Udh-hiyah dan menyedekahkan sebagiannya, 617
  • Cabang: Ulama madzhab kami berpendapat, “Tidak cukup bersedekah dengan kulit apabila kami katakan berdasarkan pendapat madzhab bahwa wajib menyedekahkan daging, 618
  • Cabang: Madzhab kami menyatakan bahwa tidak boleh menjual kulit Udh-hiyah maupun bagian-bagian tubuhnya yang lain, 619
  • Hukum: Berkenaan dengan ketetapan hukumnya, Imam Asy-Syafi’i dan fuqaha Syafi'iyyah 621
  • Cabang: Syeikh Abu Hamid, Al Bandaniji dan fuqaha Syafi'iyyah 621
  • Beberapa Masalah yang Berhubungan dengan Bab Ini 624
  • Bab Aqiqah 633
  • Hukum: Berkenaan dengan ketetapan hukumnya, dalam hal ini ada beberapa permasalahan: 640
  • Cabang: Apabila bayi yang lahir wafat setelah hari ketujuh dan ada kemampuan yang menyembelih Aqiqah, 646
  • Cabang: Disunahkan agar waktu menyembelih Aqiqah pada awal hari. 647
  • Cabang: Menurut kami, melaksanakan Aqiqah lebih utama daripada menyedekahkan harganya. 650
  • Hukum: Berkenaan dengan ketetapan hukumnya, dalam hal ini ada beberapa permasalahan 653
  • Cabang: Madzhab kami dan madzhab Jumhur adalah bahwa boleh menamai anak dengan nama para Nabi dan para malaikat. 656
  • Cabang: Diriwayatkan secara shahih dari Abu Hurairah 658
  • Cabang: Diriwayatkan secara shahih dalam Ash-Shahihain dari riwayat beberapa sahabat seperti Jabir dan Abu Hurairah 662
  • Cabang: Salah satu bagian dari adab atau etika adalah seseorang boleh tidak menulis nama Kun-yah-nya 664
  • Cabang: Tidak apa-apa menggunakan nama Kun-yah Abu Isa. 665
  • Cabang: Diriwayatkan secara shahih dalam Ash-Shahihain 672
  • Cabang: Dari Ibnu Abbas 680
  • Cabang: Abu Ubaid meriwayatkan dalam kitabnya Gharib Al Hadits 681
  • Cabang: Dari Ummu Kurz Al Ka’biyyah 681
  • Pendapat Para Ulama tentang Akikah 682
  • Pendapat Para Ulama tentang Jumlah Kambing Akikah 684
  • Cabang: Madzhab kami menyatakan bahwa boleh berakikah dengan hewan ternak yang disembelih dalam Udh-hiyah seperti onta, 684
  • Cabang: Telah kami uraikan sebelumnya bahwa disunahkan tidak meremukkan tulang-tulang hewan Akikah. 685
  • Cabang: Madzhab kami menyatakan bahwa makruh melumuri kepala bayi dengan darah Akikah. 685
  • Cabang: Madzhab kami menyatakan bahwa Akikah tidak ketinggalan apabila diundur dari hari ketujuh. 686
  • Cabang: Apabila bayi mati sebelum hari ketujuh maka menurut kami tetapi disunahkan Akikah. 686
  • Cabang: Madzhab kami menyatakan bahwa tidak boleh menyembelih Akikah untuk anak yatim dengan menggunakan hartanya. 686
  • Cabang: Telah kami uraikan sebelumnya bahwa pendapat ulama madzhab kami adalah disunahkan memberi nama bayi yang meninggal dalam kandungan. 687
  • Bab Nadzar 688
  • Hukum: Berkenaan dengan ketetapan hukumnya, 689
  • Cabang: Makruh hukumnya memulai nadzar. 691
  • Cabang: Seandainya seseorang berkata, “Apabila Allah menyembuhkan penyakitku ini maka aku wajib melakukan sesuatu karena Allah 694
  • Hukum: Berkenaan dengan ketetapan hukum dalam masalah ini, 696
  • Cabang: Sebagaimana asal ibadah menjadi wajib dilaksanakan apabila dinadzarkan, 698
  • Cabang: Apabila seseorang bernadzar akan berjihad di tempat tertentu dengan menentukannya, 703
  • Cabang: Ulama madzhab kami berpendapat, “Disyaratkan untuk nadzar melakukan ibadah yang berkaitan dengan harta seperti sedekah, 703
  • Cabang: Al Baghawi berkata dalam Bab Istisqa, “Seandainya imam bernadzar akan melakukan shalat Istisqa maka dia harus keluar bersama kaum muslimin untuk shalat Istisqa mengimami mereka.” 705
  • Cabang: Imam Al Ghazali ditanya dalam fatwa-fatwanya tentang penjual yang mengatakan kepada pembeli, 705
  • Cabang: Al Qadhi Abu Al Qasim Ibnu Kajj mengutip dua pendapat fuqaha Syafi’iyyah 706
  • Jika Seseorang Bernadzar Akan Memberi Pakaian kepada Anak Yatim 706
  • Cabang: Pendapat para ulama berkenaan dengan orang yang bernadzar akan meminum khamer atau berzina atau perbuatan maksiat lainnya.
  •  707 Cabang: Apabila seseorang bernadzar akan berpuasa pada hari raya Idul Fitri atau hari raya Idul Adha atau hari Tasyriq 707
  • Cabang: Apabila seseorang bernadzar akan menyembelih putranya atau putrinya atau dirinya sendiri 708
  • Cabang: Apabila seseorang bernadzar melakukan perbuatan mubah seperti memakai pakaian atau naik kendaraan maka menurut kami nadzarnya tidak sah. 709
  • Hukum: Berkenaan dengan ketetapan hukumnya, ulama madzhab kami berpendapat, 712
  • Cabang: Apabila seseorang mewajibkan dirinya akan memerdekakan seorang budak dengan menentukannya saat sedang emosi, 714
  • Cabang: Seandainya seseorang berkata, “Kalau aku melakukan begini maka aku harus bernadzar atau aku wajib bernadzar” 715
  • Cabang: Apabila seseorang mengucapkan sejak awal, “Hartaku kusedekahkan atau di jalan Allah” 717
  • Cabang: Ar-Rafi’i berkata, “Ucapan bisa berulang-ulang sehingga bisa menjadi nadzar ketaatan dan bisa pula menjadi nadzar emosi sehingga dikembalikan kepada niat dan keinginan seseorang. 718
  • Cabang: Imam Asy-Syafi’i mengatakan berkenaan dengan nadzar emosi (Lajaj), 720
  • Cabang: Apabila seseorang berkata, “Sumpah-sumpah bai’at wajib bagiku” 720
  • Hukum: Berkenaan dengan ketetapan hukumnya, dalam hal ini ada beberapa masalah, 737
  • Cabang: Apabila seseorang bernadzar akan menyembelih seekor kambing lalu dia menggantinya dengan unta maka hukumnya dibolehkan tanpa diperselisihkan lagi. 748
  • Cabang: Apabila seseorang bernadzar akan menyembelih hewan Hadyu berupa seekor kambing dengan menentukannya maka dia wajib melaksanakannya. 748
  • Cabang: Imam Asy-Syafi’i berkata dalam Al Umm, 749
  • Cabang: Ulama madzhab kami berpendapat, “Memperharum Ka’bah dan menutupinya dengan kain termasuk ibadah, 750
  • Cabang: Telah kami uraikan sebelumnya bahwa orang yang bernadzar akan menyembelih 751
  • Hukum: Apabila seseorang bernadzar akan menunaikan shalat secara mutlak, 753
  • Cabang: Apabila seseorang bernadzar akan menunaikan shalat di tempat tertentu maka dia wajib menunaikannya. 760
  • Cabang: Telah diuraikan sebelumnya tentang nadzar berjalan menuju Baitullah Al Haram 761
  • Cabang: Apabila seseorang mengucapkan, “Aku wajib menunaikan shalat fardhu di masjid karena Allah” 762
  • Cabang: Al Qadhi Ibnu Kajj berkata, “Apabila seseorang bernadzar akan berziarah ke makam Nabi g, 762
  •  
  • Cabang: Al Mutawalli berkata, “Apabila seseorang berkata, ‘Aku wajib berjalan ke Makkah karena Allah’ 762
  • Cabang: Penulis menjelaskan dalam pembahasannya, “Dalilnya adalah bahwa shalat di Masjidil Haram 762
  • Cabang: Pendapat para ulama tentang orang yang bernadzar akan menunaikan shalat secara mutlak. 763
  • Cabang: Apabila seseorang bernadzar akan berjalan menuju Masjidil Haram maka dia harus melaksanakannya, 763
  • Cabang: Apabila seseorang bernadzar akan shalat di Masjidil Haram lalu dia shalat di masjid lain maka menurut kami tidak sah764
  • Cabang: Apabila seseorang bernadzar akan berjalan menuju masjid Madinah atau masjid Al Aqsha maka menurut kami dia tidak wajib melakukannya menurut pendapat yang paling shahih dari dua pendapat Imam Asy-Syafi’i. 764
  • Cabang: Apabila seseorang bernadzar akan berjalan menuju masjid selain tiga masjid yaitu Masjidil Haram, 764
  • Cabang: Apabila seseorang bernadzar akan berjalan menuju Shafa dan Marwah atau Mina, 765
  • Cabang: Apabila seseorang bernadzar akan menunaikan shalat di masjid Madinah atau masjid Al Aqsha, 765
  • Cabang: Hari yang ditentukan dengan nadzar tidak berlaku untuk kekhususan bulan Ramadhan, 772
  • Cabang: Perbedaan pendapat yang telah diuraikan sebelumnya bahwa apakah hari yang ditentukan dengan nadzar menjadi tertentu? 772
  • Cabang: Apabila seseorang bernadzar akan berpuasa beberapa hari, misalnya dengan berkata, “Aku akan berpuasa selama sepuluh hari” 773
  • Cabang: Apabila seseorang bernadzar akan berpuasa satu bulan, harus dilihat dulu, 774
  • Cabang: Apabila seseorang bernadzar akan berpuasa selama satu tahun, dalam hal ini ada dua kondisi, 775
  • Cabang: Apabila seseorang bernadzar akan berpuasa selama 360 hari maka dia wajib menunaikannya dalam jumlah hari tersebut tapi tidak wajib berturut-turut. 778
  • Cabang: Penulis Al Bayan berkata: Penulis At-Talkhish berkata, “Apabila seseorang bernadzar akan berpuasa di tanah Haram maka tidak sah apabila dia melakukannya di tempat lain.” 779
  • Cabang: Penulis Al Iddah dan Al Bayan berkata, “Apabila seseorang berkata, ‘Aku akan berpuasa pada tahun ini’ maka dia wajib berpuasa pada sisa tahun tersebut dan tidak wajib pada tahun lainnya, 779
  • Cabang: Seandainya seseorang bernadzar akan berpuasa pada hari kamis misalnya maka tidak boleh berpuasa pada hari sebelumnya. 780
  • Cabang: Apabila seseorang bernadzar akan berpuasa pada hari raya atau hari Tasyriq maka nadzarnya tidak sah dan tidak wajib menunaikan puasa tersebut. 780
  • Cabang: Apabila seseorang bernadzar akan berpuasa selama 1 tahun maka nadzarnya sah sebagaimana telah diuraikan sebelumnya dalam Bab Puasa sunah. 785
  • Cabang: Apabilan seseorang berkata, “Apabila si fulan datang maka aku wajib berpuasa kemarin pada hari kedatangannya” 792
  • Cabang: Apabila berkumpul dalam satu hari 2 nadzar, maka hukumnya sebagaimana yang telah dijelaskan oleh penulis. 792
  • Cabang: Apabila seorang laki-laki bernadzar akan berpuasa pada hari raya atau seorang bernadzar akan berpuasa pada hari-hari haidh 792
  • Cabang: Apabila seseorang telah mulai puasa sunah lalu dia bernadzar akan menyempurnakannya, 793
  • Hukum: Berkenaan dengan ketetapan hukumnya, dalam hal ini ada beberapa masalah: 809
  • Cabang: Hakikat tidak mampu, secara zahir yang dimaksud adalah apabila yang bersangkutan merasa kesulitan, 812
  • Cabang: Apabila seseorang bernadzar akan menunaikan Haji tanpa memakai alas kaki (sepatu/sandal), 814
  • Hukum: Telah dijelaskan sebelumnya tentang hukum orang yang bernadzar akan berjalan menuju Masjidil Haram dan masjid-masjid lainnya serta masjid Madinah dan masjid Al Aqsha. 816
  • Cabang: Apabila seseorang bernadzar akan menunaikan banyak haji maka nadzarnya sah 821
  • Cabang: Bagi orang yang bernadzar akan menunaikan Haji harus menunaikannya sendiri. Kecuali apabila kondisinya lemah, 821
  • Cabang: Ulama madzhab kami berpendapat, “Apabila seseorang bernadzar akan menunaikan Haji secara mutlak, 821
  • Cabang: Barangsiapa bernadzar akan menunaikan Haji sedang dia masih ada kewajiban Haji Islam, 822
  • Cabang: Apabila seseorang bernadzar akan menunaikan Haji pada tahun ini sedang jaraknya dengan Makkah sejauh perjalanan satu bulan, 822
  • Beberapa Masalah yang Berkaitan dengan Nadzar 823